D'EXIT BAND

D'EXIT BAND

Minggu, 14 Maret 2010

Diposting oleh Khudry Alexandrya

Awal Karir D’EXIT

D’EXIT, itulah nama band yang terlintas ditelinga masyarakat MAN KOTA KEDIRI 3 saat ini. Tentu band ini tidak asing lagi bagi mereka, karena band ini terlahir juga di MAN KOTA KEDIRI 3. Band ini digawangi oleh Dadang (Vokalis), Sulu (Gitaris 1), Macky (Gitaris 2), Moris (Basis), Erwand (Keybordis) dan Dry (Drummer), yang semuanya dari anak-anak sosial 3. Mereka bergabung dalam D’EXIT awal mulanya hanya main-main saja dalam bermain band. Tetapi ketika terdengar bahwa akan ada festival disekolah mereka, mereka bersepakat untuk ikut dan membentuk sebuah band. Mereka satu sama lain berusaha untuk terus berlatih agar nantinya The Winner pada festival tersebut. Memang mereka semua (Personil D’EXIT) adalah pemula. Tatapi tekad dan bakad mereka dalam bermain musik yang tinggi , mereka yakin bakal bias menjadi yang terbaik.
Singkatnya, hari itu festival band dilaksanakan . Mereka (D’EXIT) sudah siap untuk menampilkan kemampuanya ke dewan juri yang menilai festival tersebut. Ternyata mereka mendapat nomer urutan satu. Meskipun nomer satu dan penonton pun tidak begitu banyak, mereka justru menampilkan yang terbaik. Akhirya festival band berakhir , pengumuman pun dilaksanakan. Tidak disangkanya ternyata mereka mendapat juara 3. Meskipu tidak juara 1 meraka sangat bangga dengan prestasi itu, karena bisa terpilih menjadi yang terbaik. Sejak itulah D’EXIT band dikenal di Kediri dan MAN KOTA KEDIRI khususnya.
“ Lalu mengapa dinamakan D’EXIT dan apa arti D,EXIT itu sendiri. . . ? ? ?

Latar Belakang Nama D’EXIT
Awalnya mereka binggung dengan nama band apa yang bagus untuk nama bandnya. . . ! ! ! Ketika musyawarah personol-personil D’EXIT, saat itu yang terlintas di fikiran Dry ( Drummer) adalah EXIT. Karena setiap dia pergi, dia pasti menemukan nama EXIT, yang artinya keluar. Akhirya dia mengusulkan nama itu dan personil lainya pun menerimanya. Kerena mereka beranggapan sama, dengan nama EXIT (Keluar) mereka bisa selalu keluar menjadi yang terbaik dimana pun berada dibanding lainya. Dan mereka bercita-cita dengan nama EXIT mereka bisa bermain ke luar negeri dan dikenal banyak kalangan, tidak hanya di Indonesia saja.
Itulah sedikit tentang latar belakang D’EXIT.

Pahit Manis Kenangan D’EXIT

Tidak mungkin tidak bila sebuah perjalanan band tidak mempunyai kenangan. baik manis atau pahit. Mereka sudah beberapa kali manggung di Kediri dan MAN KOTA KEDIRI 3 khususnya. Mereka juga pernah ikut festival-festival band di Kediri meskipun belum mendapatkan yang terbaik. Mereka juga pernah menjadi Guest Star pada lomba madding, milad dan perpisum da MAN KOTA KEDIRI 3.
Pengalaman pahit dan mengenag dihati D’EXIT menurut mereka adalah ketika menjadi Guest Star milad di MAN KOTA KEDIRI 3. Ketika itu mereka sudah sangat siap dengan segalanya, baik lagu-lagunya yang akan dibawakan maupun kostum yang mereka kenakan. Ketika D’EXIT dating mereka pun bersorak gembira dan tidak sabar dengan lagu-lagu yang akan mereka bawakan. Saat lagu pertama dilantunkan, mereka pun sangat gembira. Tetapi ketika pertengahan lagu kedua yang mereka bawakan justru suasana bertambah ramai dan penonton tertawa terbahak-bahak , ntah apa yang mereka tertawakan. Personil D’EXIT tidak mengerti. Setelah beberapa menit sang Vokalis pun sadar, ternyata lesleting yang ia kenakan rusak dan membuka. Suasana pun semakin ramai dengan kejadian tersebut dan aksinya pun tetap dilanjutkan sampai akhir walaupun keadaan tersebut.. Dan setelah itu mereka malah sangat dikenal banyak orang, terutama sang Vokalis.
Itulah sedikit tentangt kenagan pahit yang mereka rasakan dan selalu dikenang dalam hati personol D’EXIT. Tetapi mereka lebih bangga lagi, karena mereka bisa dikenal dikalangan masyarakat Kediri dan MAN KOTA KEDIRI 3 khususnya, sekaligus menjadi kenagan termanis yang pernah mereka miliki. Hingga mereka berfikiran untuk membuat album yang bertajuk “SEBUAH KENANGAN TERMANIS”. Tetapi masih belum jelas kapan bakal diselesaikan. Karena mereka masih mengandalkan 2 singgle yaitu SANG PUJAAN HATI dan MEMBUATKU BINGGUNG.

TIPS UNTUK BELAJAR DRUM

Diposting oleh Khudry Alexandrya

1. Selalu menggunakan EAR PLUG (penutup telinga) guna melindungi telinga dari kerusakan dan selalu gunakan pada saat latihan dan tampil. Sekarang banyak pemain drum yang telah mengidap penyakit tinnitus (kuping mendengung) dan sampai sekarang obatnya masih belum ada. Sayangilah pendengaran anda.

2. Biasakan menggunakan METRONOME setiap kali berlatih sehingga tempo anda senantiasa stabil.

3. Bermainlah dengan RILEKS, jangan tegang dan jangan membuang-buang tenaga, tidak ada gunanya.

4. Selalu menyiapkan STICK sendiri lebih dari satu pasang jika ingin tampil.

5. Jangan terlalu CEPAT PUAS dengan ilmu yang telah anda dapat. Cobalah menambah ilmu lagi dengan cara belajar dari guru drum yang berbeda atau dari teman anda yang lebih berpengalaman.

6. Jangan terlalu FANATIK pada satu atau dua aliran lagu saja, hal inilah yang dapat menghambat kreatifitas pemain dan membuat permainan anda menjadi monoton dan membosankan. Cobalah berbagai macam aliran musik dan usahakan anda dapat memainkan seluruh aliran musik yang ada.

7. Dalam permainan drum harus melibatkan FEEL atau dengan kata lain harus benar2 dirasakan, jangan asal pukul dan jangan pernah berpikiran bahwa semakin keras pukulan semakin bagus. Itu salah! Dan juga jangan berpikir bahwa semakin cepat anda bermain semakin hebat. Tidak juga, kekerasan dan kecepatan tidak ada sangkut pautnya dengan musikalitas.

8. Selalu berlatih dari TEMPO yang lambat dan jika sudah sangat terbiasa, tingkatkan temponya perlahan-lahan. Anda harus belajar berjalan dulu baru bisa lari.

9. DENGARKAN pada musisi lainnya, jangan hanya terfokus pada diri sendiri, dengarkan yang lain.

10. Jadilah pemain drum yang KREATIF, beri variasi pada setiap permainan drum yang anda dapat. Karena drum masih merupakan sesuatu yang 'baru', masih banyak variasi baru yang bisa anda dapatkan.


Note: Untuk EAR PLUG anda dapat membelinya di apotik yang besar atau di toko yang menjual perlengakapan militer. Untuk metronome disetiap toko musik pasti ada, dan carilah yang digital.

Selengkapnya www.klinikdrum.com

NEWS By D'EXIT

Diposting oleh Khudry Alexandrya

Fatwa Rokok Muhammadiyah
Minggu, 14 Maret 2010 20:14 WIB
Apa yang salah dengan fatwa haram yang dikeluarkan Muhammadiyah berkaitan dengan merokok? Adanya donasi yang diberikan Yayasan Michael Bloomberg membuat orang bertanya apakah fatwa itu murni untuk kebaikan umat ataukah ada pesanan dari pemberi donasi.

Pihak Muhammadiyah mengaku menerima donasi Rp 3,7 miliar dari Yayasan Michael Booolberg untuk kampanye antirokok di Indonesia. Namun mereka menyangkal bahwa penetapan fatwa rokok didasarkan oleh pemberian donasi tersebut.

Penyangkalan memang bisa saja disampaikan, namun sulit untuk menerima bahwa tidak ada hubungan antara pemberian donasi dengan penetapan fatwa. Apalagi donasi dari Yayasan Michael Bloomberg secara khusus ditujukan bagi kampanye antirokok di Indonesia.

Ini tentunya pelajaran berharga bagi Muhammadiyah. Sebagai organisasi masyarakat berbasis keagamaan betapa pentingnya arti sebuah kepercayaan. Apalagi ketika hendak mengeluarkan sebuah aturan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat banyak.

Dalam konteks Indonesia, isu rokok tidak bisa dilihat secara sederhana. Sebab ini berkaitan dengan kehidupan begitu banyak petani tembakaU dan masyarakat yang bekerja di industri rokok.

Memang ada faktor kesehatan yang harus diperhatikan dan biaya kesehatan yang begitu mahal harus kita keluarkan untuk menangani penyakit akibat merokok, apabila pembatasan tidak dilakukan. Namun penyelesaian persoalan tidak boleh dilakukan dengan menimbulkan persoalan yang baru.

Dalam konteks inilah maka penyelesaian persoalan rokok harus dilakukan secara lebih komprehensif. Terutama pemerintah harus memikirkan terlebih dahulu petani tembakau yang jumlahnya besar. Sebab bertani tembakau merupakan kegiatan yang sudah berlangsung turun temurun dan kebanyakan lahan yang mereka miliki hanya cocok untuk tanaman tembakau.

Bisa saja memang dicarikan alternatif tanaman yang bisa memberikan pendapatan seperti halnya tembakau. Namun itu tidak bisa sekali jadi. Kalau pun ditemukan tanaman yang bisa memberikan pendapatan yang minimal sama dengan tembakau, pemerintah harus mengajari petani untuk mengganti tanamannya tersebut.

Proses pergantian tanaman membutuhkan waktu sedikitnya tiga tahun. Sepanjang waktu itu pemerintah bukan hanya berkewajiban untuk mendampingi, tetapi memberikan kompensasi atas pendapatannya yang hilang akibat berhenti menanam tembakau.

Mengapa pemerintah harus bertanggung jawab? Pertama, karena pergantian tanaman bukanlah keinginan petani. Kedua, pemerintah tidak bisa membiarkan para petani tembakau kehilangan mata pencaharian, karena kalau itu yang terjadi akan menimbulkan ledakan pengangguran yang tinggi.

Itu belum kita memikirkan nasib jutaan pekerja yang hidup di industri rokok. Para pemilik industri rokok bisa menggantikan tenaga kerja manusia dengan mesin. Mereka pasti bisa bertahan dengan menggeser produknya ke pasar internasional. Namun terutama buruh rokok merupakan orang-orang dengan keterampilan yang terbatas dan tidak mudah bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan baru.

Aspek sosial inilah yang harus menjadi perhatian kita saat hendak menangani persoalan rokok. Kita tidak bisa hanya ikut kampanye global antirokok, tanpa harus memahami persoalan mendasar yang dihadapi bangsa ini.

Kita harus akui gerakan global antirokok berlangsung luar biasa. Jutaan dollar dana disediakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar paham akan bahaya merokok. Mereka mempunyai kemampuan untuk menembus kelompok-kelompok masyarakat yang dinilai bisa mendukung keberhasilan mereka.

Namun sekali lagi, penyelesaian persoalan Indonesia dengan menggunakan kaca mata global akan menyesatkan. Sekarang ini kita mulai melihat perlawanan dari daerah, khususnya dari para petani tembakau. Mereka tidak tinggal diam saat masa depan mereka diganggu.

Lalu bagaimana mencari cara penyelesaian yang terbaik? Tidak bisa lain kecuali mengundang semua pemangku kepentingan (stakeholders) untuk mencarikan solusi yang bersama. Para pemangku kepentingan itu mulai dari pemerintah yang terdiri dari Kementerian Kesehatan, Perindustrian, Pertanian, dan Keuangan, kelompok masyarakat antirokok, petani tembakau, buruh pabrik, dan industri rokok.

Pertemuan para pemangku kepentingan akan memutuskan seperti apa kita akan menangani isu rokok. Kalau akan akan pembatasan peredaran rokok seperti apa penjadwalannya. Pada masa itu bagaimana kemudian kita mengeliminir dampak negatif dalam penerapan kesepakatan tersebut.

Pemaksaan kehendak jelas bukan solusi terbaik. Hal itu justru akan membuat semua pihak mengambil ancang-ancang untuk berseberangan dan akhirnya hanya sekadar saling serang. Di tengah situasi masyarakat yang sedang cair, itu hanya akan menimbulkan persoalan sosial yang baru.

CERITA CINTA D'EXIT

Diposting oleh Khudry Alexandrya

Tak Cukup Hanya Cinta
(Sumber : http://bundanaila.blogspot.com)


“Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?”, sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami masing-masing membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.
“Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri”, jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan sandal-sendal yang lain. “Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri majelis-majelis taklim”, raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku bisa memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.
“Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol dulu”, tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. ” Nggak papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama nggak ngobrol-ngobrol”, jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang masih satu komplek dengan Mesjid.
Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.
“Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama”, mbak Artha mulai bertutur. “Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk menikah”.
“Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?”, tanyaku penasaran. “Itulah dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat perbuatanku sendiri”
“Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah dan mawaddah baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik, udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek, aku Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik”, papar mbak Artha sambil tersenyum getir.